Rabu, 13 September 2017

TUHAN MEMANGGIL MAKA AKU TAAT

Yunus 3:1-5, 10, Mazmur 62:5-12; 1 Korintus 7:29-31; Markus 1:14-20

Pengantar
Mari kita lihat keberadaan gereja kita masing-masing. Misalnya, GKJ Magelang. Keberadaan GKJ Magelang tidak terlepas dari gereja Belanda di Amsterdam yang mengirimkan pendeta utusannya atas diri A. Markelijn di tahun 1921. Semula gedung gereja di Bayeman (yang kini GKJ Magelang), dipakai secara bergantian oleh etnis Belanda di pagi hari, etnis Tionghoa di siang hari, dan etnis Jawa di sore hari. Dalam perkembangan berikutnya, etnis Tionghoa berkembang pesat dan mendirikan sendiri tempat ibadah yang kemudian dikenal dengan nama GKI Pajajaran. Tinggalah sekarang gereja Bayeman hanya dipakai oleh etnis Belanda dan etnis Jawa, tepat pada bulan Januari 1924 ada pelantikan Penatua dari etnis Jawa, dan inilah cikal bakal kedewasaan Gereja Jawa, yang lalu dikenal dengan nama GKJ Bayeman dan kemudian berubah menjadi GKJ Magelang.
GKJ Magelang telah melewati 88 tahun masa pelayanan. Dan setidaknya telah dilayani lebih dari 3 pendeta Belanda, 7 pendeta Jawa dan 2 pendeta Militer. Hingga saat ini GKJ Magelang dilayani oleh 2 Pendeta, 63 Penatua/Diaken, 2.800 jiwa yang tersebar di Magelang dan luar Magelang, wilayah pelayanan ada di kota/kab Magelang dan beberapa kota. Ada  9 wilayah pelayanan, 6 tempat ibadah yang rutin tiap Minggu dengan 9 jam ibadah, dan  14 Komisi yang membantu pelayanan Majelis. Selama 88 tahun, GKJ Magelang telah mendewasakan pepanthannya, menjadi: GKJ Plengkung, GKJ Bono, GKJ Mertoyudan dan GKJ Salaman. Padahal pada tahun 1921 atau 88 tahun lalu, jemaat hanya sekitar 4 atau 8 orang. Jelas ada pertambahan secara jumlah jemaat, keragaman warna pelayanan, dan beragam juga kualitas jemaat atau pelayanan.
Akhir-akhir ini ada fenomena, pertambahan jemaat karena ‘kemunculan lagi jemaat yang sudah lama sekali menghilang’, ‘pernyataan masuk bagi mereka yang status bergerejanya dari yang kurang jelas menjadi warga GKJ Magelang’, dan ‘pertobatan dari beberapa orang’. Sungguh, semua ini boleh terjadi ‘karena ada maksud dari Tuhan’. Tuhan memang memanggil setiap hamba-Nya, dan kita pun harus mau menerima panggilan-Nya. Mau taat pada-Nya.

Belajar Taat ketika dipanggil
Tuhan memang memanggil kita. Ketika Tuhan memanggil kita berarti ada rencana khusus dari Tuhan buat kita. Setidaknya kita dilibatkan menjadi rekan sekerja Tuhan. Tetapi ingat, Tuhan lah yang memanggil dan kita hanya merespon panggilan-Nya. Hal ini nampak sekali dalam kisah pemanggilan para murid-Nya. Dalam Markus 1:14-20, Yesus datang memulai karya-Nya di Galilea, di lingkungannya sendiri. Ia memanggil para murid-Nya dari lingkungan-Nya sendiri.
Sama seperti Yohanes Pembaptis, Yesus pun menyerukan pertobatan. Tampak sekali di sini, betapa pentingnya manusia bertobat (= berbalik arah) kepada Tuhan demi keselamatannya. Diceritakan dalam Markus, ketika Yesus berjalan menyelusuri danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas sedang menebarkan jalan, sesuai dengan pekerjaan mereka sebagai nelayan. Perjumpaan-Nya dengan ke dua orang ini bukanlah secara kebetulan, sebab apa yang seringkali kita katakan sebagai sebuah ‘kebetulan’, kelak terbukti bahwa itu terjadi karena campur tangan Allah sendiri. Kepada kedua orang ini Yesus berkata, “Ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia”. Begitu saja Yesus memanggil 2 orang ini, tanpa diskusi dan tanpa kompromi. Seringkali manusia berpikir untuk mendapatkan Tuhan, namun yang sebenarnya terjadi adalah terbalik. Tuhanlah yang mendapatkan manusia. Terbuka pilihan bebas, yaitu menerima atau menolak panggilan itu, tentu dengan kosekuensi yang berbeda.
Menarik sekali, tiba-tiba saja, dengan segera dua orang itu meninggalkan jalanya, dan mereka mengikut Yesus. Entah apa yang mereka pikirkan. Daya pikat panggilan itu begitu kuat menyapa jiwa mereka. Mereka mau saja meninggalkan semuanya, dan memilih menerima panggilan itu. “Mengikut” Yesus berarti memang berjalan di belakang Yesus, menjalani jalan yang ditempuh-Nya, tetapi juga mengikuti gaya hidup Yesus dan, mereka bersedia! Beberapa waktu kemudian, Yesus memanggil dua nelayan lagi, yaitu Yakobus dan Yohanes. Sama seperti yang terjadi sebelumnya, ke dua orang ini pun menyambut panggilan Yesus dan mengikut Dia.
Janji Yesus kepada mereka yang dipanggil-Nya adalah bahwa mereka akan dijadikan penjala manusia. Sebuah ungkapan yang tidak lazim, namun yang berarti bahwa mereka akan “menangkap” orang-orang untuk menikmati Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus. Kesediaan para murid-murid pertama ini menandakan bahwa Yesus terus memanggil banyak orang lainnya lagi, dan bahwa banyak orang akan juga bersedia menerima panggilan itu.
Memang menurut Tuhan, setiap panggilan dari-Nya harus direspon. Setiap orang yang menerima panggilan Tuhan akan menerima tugas. Setiap tugas harus menghasilkan buah yang nyata sebagai wujud ketaatan. Hal ini nampak dengan jelas dalam kisah Yunus. Yunus dipanggil oleh Tuhan, namun ia menolak. Kenyataan yang ada, penolakan Yunus ini sia-sia. Sebab manakala Tuhan memanggil, dan manusia menolak-Nya dengan kuasa-Nya, Tuhan mampu membuat manusia menuruti kehendak-Nya. Itulah sebabnya dalam Yunus 3:1-2 Tuhan tetap memakai Yunus. Tuhan tidak menolak Yunus, tetapi malah memberikan kesempatan pertobatan bagi Yunus sebelum mempertobatkan Ninewe.
Kini di ayat 3-4, Yunus telah bertobat dan mau menuju ke Ninewe. Ketika melarikan diri ke Tarsis diceritakan dengan panjang lebar, namun di sini ketaatannya ditulis dengan singkat. Ninewe diterangkan sebagai kota yang ‘mengagumkan besarnya’ (di pasal 1:2 kota Ninewe hanya disebutkan sebagai kota yang besar, tanpa ‘mengagumkan’). Kalimat ‘3 hari perjalanan luasnya’, dan ‘Yunus masuk ke kota itu sehari perjalanan jauhnya’, menunjukkan betapa besarnya kota itu. Di tengah kota Ninewe, Yunus segera menyampaikan berita dari Tuhan, yakni ’40 hari lagi, maka Ninewe akan ditunggangbalikkan’. Tuhan masih memberikan kesempatan 40 hari kepada Ninewe. Waktu yang cukup panjang, dan dapat dipergunakan untuk memperbaiki keadaan. Di sini jelas sekali bahwa Allah bukanlah Tuhan yang suka kebinasaan melainkan Tuhan yang tetap memberikan waktu bagi pertobatan.
Luar biasa! Orang Ninewe segera menanggapi seruan Yunus. Dengan cepat mereka segera ‘percaya kepada Allah’ (ayat 5). Mereka belum pernah mendengar tentang TUHAN, namun sekarang mereka percaya kepada Allah. Mereka menunjukkan rasa percaya mereka dengan tindakan nyata, dengan cara berpuasa dan mengenakan kain kabung sebagai tanda pertobatan. Akibatnya adalah, Tuhan menyesal telah ‘merancang akan membinasakan Ninewe’ (ayat 10). Di sini nampak sekali bahwa Tuhan sebenarnya tidak menghendaki seorang pun binasa. Betapa pun manusia itu sangat jahat, dan ‘tidak termasuk’ umat-Nya, namun jika manusia mau mendengar firman-Nya dan bertobat, Allah bersedia mengubah rencana-Nya. Sebab Allah, bukan sosok yang kaku. Ia adalah Allah yang ‘hangat’ dan penuh kemurahan hati. Di sini juga nampak sekali, ketaatan Yunus akan membawa perubahan besar bagi manusia. Demikian juga sikap percaya akan mendatangkan keselamatan.

Manusia membutuhkan Tuhan
Mengapa manusia membutuhkan Tuhan? Mengapa kita harus menanggapi panggilan-Nya? Ini dikarenakan, hanya Tuhan lah satu-satunya sumber keselamatan kita. Hal ini nampak sekali dalam Mazmur 62. Penulis Mazmur 62 adalah seorang pejabat yang sedang diserang oleh kawan-kawannya dan kekuasaannya akan direbut. Mereka menyerang dengan perkataan dusta. Sepintas perkataan mereka seperti berkat, namun sebenarnya berisikan kutuk. Ketika menghadapi serangan ini, pemazmur tidak mengandalkan kekuatan diri melainkan berlindung pada Tuhan, dan ia merasa tenang hidup dekat dengan Tuhan (ayat 2). Ia menyakini bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan, gunung batu dan keselamatannya. Ia menghayati segala kekuasaannya berasal dari Allah (ayat 12).
Dengan berlindung pada Tuhan, ia merasa tenang, dan tidak perlu bersusah payah bingung mempertahankan kekuasaannya. Pemazmur tidak hanya menghayati Allah sebagai tempat berlindung yang kokoh bagi dirinya sendiri saja, ia juga mengajak semua orang untuk melakukan hal yang sama (ayat 9). Hanya kepada Allah mereka boleh berkeluh-kesah: menangis, berdoa. Lantas apa yang terjadi pada orang-orang yang melawan mereka yang berlindung kepada Tuhan? Mereka itu akan dihancurkan, mereka hanya ‘angin’ (ayat 10), dan semua perbuatan mereka akan dibongkar oleh Tuhan. Mereka akan mendapat hukuman dari Tuhan.
Bagi mereka yang telah mengenal Allah, mereka harus hidup di dunia dengan cara yang baru. Cara baru ini adalah ‘kesadaran bahwa mereka berasal “bukan dari dunia” ini’. Sehingga hidup mereka tidak melekat pada sesuatu yang ada di dunia ini. Mereka tetap hidup sesuai dengan panggilan Tuhan, dan menghayatinya sebagai pengabdian pada Tuhan dan sesama. Cara inipun merupakan wujud sebuah kesaksian hidup dalam hidup mereka.
Inilah yang dikehendaki oleh rasul Paulus. Ketika seseorang menjadi pengikut Kristus, mereka harus menjalani hidup mereka dengan tugas dan kewajiban mereka. Tentu saja dengan penghayatan dan kesadaran baru bahwa semua itu dilakukan sebagai pengabdian kepada Allah. Misalnya, ‘mereka yang telah beristri, harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristri’ (ayat 29). Hal ini dikatakan bukan dengan maksud ‘agar menceraikan, melupakan atau berbohong status telah beristri’, melainkan ‘tetap fokus’ pada Kristus dalam kondisi apapun.
Lebih lanjut dalam ayat 30, Paulus mengatakan ‘orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis, dan orang-orang yang bergembira, seolah-olah tidak bergembira”.  Dukacita dan sukacita adalah perasaan yang wajar ada dalam kehidupan manusia. Paulus tidak mengajarkan kepura-puraan, melainkan peristiwa apapun dalam kehidupan kita, jangan sampai mengacaukan perasaan dan perhatian mereka. Mereka tetap harus ‘sadar’ dan dapat mengendalikan diri mereka, sehingga mereka tidak kehilangan kewaspadaan. Demikian pula terhadap harta milik: jangan sampai harta milik membengkokkan mereka dari keselamatan mereka (ayat 30b, ‘orang yang membeli, seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli’).
Semua yang menggunakan barang-barang dunia, harus bersikap seolah-olah tidak menggunakannya. Tentu saja, menurut Paulus, pedagang Kristen dapat terus berdagang, tetapi ia harus sadar bahwa ia tidak boleh lekat pada ‘dunia sekarang ini’. Sebab sebagai orang Kristen ia telah hidup dalam sebuah ‘dunia baru’. Kesadaran ini juga akan mempengaruhinya caranya berdagang. Sekali lagi, maksudnya tidak lain dan tidak bukan, jangan sampai orang terjerat pada hal-hal yang dapat membelokkan perhatian mereka kepada Tuhan. Dunia sendiri akan berlalu (ayat 31), dan orang Kristen tidak perlu merasa rugi jika ia kehilangan semuanya asal ia dapat hidup bersama Yesus. itulah kualitas hidup dan kebahagiaan yang sejati.

Panggilan
Tuhan memanggil, maka aku taat. Adalah suatu keharusan. Dikarenakan, Allah memanggil kita dengan memiliki pertimbangan, dan memakai kita dalam karya-Nya. Jika kita memenuhi panggilan Allah maka kita harus taat, sebab ketaatan akan menghasilkan buah pelayanan. Bagaimana wujud dari memenuhi panggilan Tuhan? Bisa dalam beragam wujud, misalnya: mau mengajak siapapun untuk bertobat, mau mengajak anggota keluarga untuk semakin dekat dengan Tuhan, melibatkan diri dalam pelayanan di gereja ataupun masyarakat, atau bahkan menyediakan diri dipakai oleh Tuhan sebagai pendamping orang jompo ataupun orang sakit.
Apapun wujud yang kita lakukan, harus kita lakukan dengan penuh kesadaran dan ketaatan. Jangan jemu ataupun jenuh, melainkan bersukacita. Sebab apapun yang kita lakukan bukan untuk diri kita melainkan untuk Tuhan. Amin
Khotbah Minggu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WEBINAR CCA: PEKERJA MIGRAN MENANGGUNG BEBAN COVID-19

Ruth Mathen Kesimpulan panelis webinar CCA: Pekerja migran menanggung beban terbesar dari krisis COVID-19 dan dampaknya yang terus meni...